To live is to wonder.

Posted on May 10, 2013 at 6AM permalink

Have you ever looked at someone and loved everything about how they are
and what they are

Have you ever looked at someone as a whole
with all their flaws
and your heart dies a little inside
because you can see their pain
and you whisper in discreet
“I can fix you.”
although you really are the one
who needs fixing

Have you ever looked at someone
and wished for them to share you their stories
because you feel like you can see the burden in their eyes
and you wish for nothing but their happiness
and you secretly wish that you can be a part of it
or even be it

Have you ever looked at someone
and you wish for yourself to look your very best for them
to look your prettiest for them
and your smile carries all your hope
that they can see it
and maybe fall for it 

Have you ever looked at someone’s fingers
and without you even knowing, your heart starts to make a prayer
that one day those fingers can hold yours
every single day
every single second

Have you ever looked at someone
and all you can say is
“God, how beautiful.”
and you may not be knowing
but your heart already starts hoping

Satu keping.

Posted on May 5, 2013 at 9AM permalink

Kita teman lama.

Berada di bawah naungan organisasi yang sama, itulah benang merang antara aku dan dia. Apa yang menyambungkan kami berdua.

Kami tak pernah bercakap bila tak perlu, hanya sebatas sapaan setiap kali kami berpapasan. Itupun hanya sebagai buah keharusan. Bila tak saling sapa pun tak apa-apa, tidak jadi masalah. Dan selalu begitu, begitu normalnya “pertemanan” kami berjalan. Yah… untuk disebut pertemanan juga, aku hanya bisa angkat bahu. 

Tapi kemudian medali kelulusan itu dikalungkan, dan seperti seharusnya, kami pun pisah jalan. Tanpa kata penutup, tanpa lambaian tangan. Tanpa adegan perpisahan yang resmi. Memang seperti itu, seperti seharusnya.

Lalu terjadilah.

Hidup.

Selama tiga tahun.

Sampai suatu hari langkahku terhenti di pintu masuk sebuah universitas yang sejuk. Kedatanganku hanya berupa kunjungan, karena bukan di sana cita-citaku kugantungkan. Tapi bukan itu yang penting… yang penting adalah siapa yang kutemui di sana. Setelah tiga tahun.

Untuk dibilang “bertemu” rasanya terlalu singkat, karena kulihat dia hanya dalam satu kedipan mata. “Itu dia,” bisik temanku menahan senyum, senyum karena melihatku terperangah. “Astaga,” suaraku tertahan di tenggorokan, “setelah tiga tahun?”

Tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar, dan tak aneh rasanya bila waktu selama itu bisa merubah seseorang. Namun rasanya melihat dia, aneh sekali, aneh yang membuat penasaran. Maka kucari dia. Dengan bermodalkan rasa penasaran. Kutemukan ia dengan mudah, dan percakapan yang belum pernah terjadi sebelumnya, mengudara hanya dalam hitungan menit. Lalu menit menjadi jam, jam menjadi hari. Tiba-tiba dalam diri ini ia menjadi sebuah kebiasaan. Kebiasaan yang tanpa ada peringatan, tumbuh pelan-pelan. Dan aku biarkan.

He was just the perfect dose of medicine of which I was desperately in need. 

Dia ciptakan sebuah atmosfer kebahagiaan, dan jika selama ini di duniaku aku bernapas dalam kesesakkan akan rasa sepi dan pahitnya kenyataan, dalam atmosfer itu ia ciptakan spasi yang hampa udara…

dan kehampaan tak pernah terasa begitu mengisi. 

Bagai dalam cerita si penyihir berkacamata, setiap perkataannya adalah rapal sebuah mantera. Obliviate, dan aku resmi lupa. Lupa akan siapa aku tiga jam yang lalu. Lupa akan udara dan kepenatan yang biasa aku hirup. Yang kuingat hanya dua piring hidangan, sore yang hangat, dan untaian dialog. Untaian yang panjang. Dan ya Tuhan, senyumnya. 

He was just the perfect dose of medicine of which I was desperately in need. 


Tapi sekarang dia hilang, atau mungkin lebih tepatnya menghilangkan diri. Membuat aku bertanya. Membuat aku mengadu. Dan pada akhirnya, kesimpulan itu aku yang membuatnya sendiri. Dia itu manusia, apa lagi yang hendak kau tanya? Datang dan pergi. Perlukah sayonara yang resmi? Siapa dia untuk memberimu sekian paragraf berisi ucapan terima kasih? Ini hanya semesta berjalan sebagaimana mestinya. Seperti tiga tahun lalu. Tanpa lambaian tangan, tanpa kata penutup. Untuk apa kata penutup? Sejak awal tak pernah ada kata pembuka. 

Ia tinggalkan ingatan akan atmosfer hampa udaranya, beberapa patah frasa manis yang buat perut ini tergelitik, dan beberapa potong gurauan yang masih kerap aku tertawakan sampai saat ini.

Ia mungkin telah tinggalkan kesan yang pahit, tapi aku berjanji, aku takkan lagi biarkan kesan pahit itu tumbuh lebih jauh. Yang akan kubawa dalam lamunan hanyalah yang baik-baik saja, yang indah-indah saja.

Ya, yang indah-indah saja.

Tidak apa.

Aku akan belajar 
mengenang tanpa rasa sakit. 

Posted on Apr 24, 2013 at 12PM permalink

Gema namamu berkumandang
Puisi indah tanpa suara
Dan getir lidahku ingin melagu
Sayup bisikmu torehkan ragu

Menggema namamu sekelibat
Lukisan maestro tiada gradasi
Dan gemetar jariku ingin menari
Angin yang membawamu bisukan musik 

Dan pelangi tak pernah kuasa atur jatuhnya
Dan kau sediakan kuali itu
Dan kau sediakan pula
Begitu banyak spasi 

Padaku dulu
Kau janjikan empat musim…

Kemoceng.

Posted on Apr 24, 2013 at 6AM permalink

Astaghfirullah, 2 bulan lamanya ngga nyentuh blog. Ngerasa berdosa sekali… pantesan sering mimpi buruk *ganyambung* Tapi bener, sebelum mengasihani diri sendiri karena suka merasa kesepian *loh curhat?* mungkin harus ditampar dulu sama fakta bahwa blogku ini lebih kesepian lagi, apalagi para pembaca yang nungguin… *ditampar beneran* (Emang ada yang baca gitu zi) (Ada, tuh yang neror di chatbox banyak) (Lah malah monolog)

Maaf sekali ya blogku sayang, terutama ke para pembaca setia (ada atau tidak ada, fana atau tidak fana) dan juga yg senantiasa “nagih” di chatbox maupun di Twitter. Alasannya sangat klise: sibuk. Oh men. Jangan tanya deh. Dari skala 1 sampai 10, seberapa sibukkah Izzati di rumah sampe ga pernah buka laptop dan ngeblog? Jawabannya: 11. Iya da Izzati-nya ngga pernah ada di rumah, hahahahahaha. 

Wes, jadi Izzati sekarang kerjaannya melancong gitu sampe ngga pernah ada di rumah? Duh amin banget deh mudah-mudahan nantinya kerjaan aku emang mengharuskan aku pergi melancong. Boro-boro melancong, TV di rumah aja debuan karena ngga ada yang nonton. Sampe hari Kamis kemarin, rutinitas aku ngga pernah jauh dari yang namanya belajar. Yang mana, kata “belajar” itu sendiri meliputi: makan, buka buku, kerjain soal, ngegosip, internetan, makan lagi, kerjain soal lagi, lalu makan, makan, makan, dan makan… Kalo ngga belajar di sekolah, ya di tempat les, dan seminggu sebelum UN lebih banyak belajar bareng di rumah. Dan kalau boleh jujur, semenjak peristiwa Banjir Jalan Jakarta (harus banget dinamain karena JALAN JAKARTA NGGA PERNAH BANJIR SEBELUMNYA) yang beritanya sampe masuk detik.com, air hujan berlumpur yang menggenangi daerah perumahanku bahkan masuk rumah itu telah merenggut nyawa salah satu sahabat (elektronik) terbaikku yang sudah jadi partner “melancong” sampe ke  Amerika… *NANGIS HISTERIS* Jangan tanya kenapa banjir yang tingginya hanya semata kaki itu bisa menenggelamkan si sahabat… ya karena 1) tingkat keteledoran si pemiliknya yang lebih tinggi dari tingkat korupsi negeri kita ini, dan 2) bentuk fisik si sahabat yang kalo aku pernah baca di 9gag mah, bisa dialihfungsikan untuk ngolesin selai kacang ke roti.

Eniwei, setelah beberapa hari koma, Si Sahabat saya larikan ke rumah sakit, dan begitu didiagnosa, Sang Dokter pun tertawa renyah. “Ini kenapa isinya berlumpur semua? Kamu celupin ke ember isi air tanah ya?” Ya kali dok emang laptop saya teh oreo apa diputar dijilat dicelupin :( *ratap Izzati sambil ngejeduk-jedukin kepala*

Singkat cerita, laptop saya pun tamat ceritanya. The worst part is, jasadnya ngga dikirim balik ke keluarganya. SEDIH GA SIH. Padahal kan lumayan masih bisa dipake buat ngoles roti :( *cengos* *disuntrung Ibu* *astaghfirullah*

-

Recent news tentang Izzati: BARU BERES UN. Yiha. Alhamdulillah ya Zi akhirnya kamu UN juga HAHAHA. Buat yang belum tau, tahun 2011-2012 lalu aku menghabiskan satu tahun yang super spektakuler di Amerika lewat program pertukaran pelajar yang super spektakuler juga, Rotary Youth Exchange. Jadi begitu pulang Juli 2012 kemarin, aku baru mulai duduk di bangku kelas 3 SMA (so pernyataan yang bilang kalau aku mengulang kelas 3 itu salah). Dan 15-18 April kemarin aku UN! Nah gimana tuh pendapatnya? (Sosoan ada yang nanya)

Ah no comment lah…………buekeke. Wes berarti lancar jaya bisa semua 100 nilainya? Ya ngga juga… tapi ya gitulah aku pihak yang no comment deh pokoknya hehe doakan aku lulus dengan hasil yang baik ya teman-teman :)

Sekarang kesibukan Izzati apa? Eh apa? Masih sibuk? Bukannya udah beres sekolah? (Ini geuleuh banget sih lagaknya kaya lagi dialog interaktif) Masih dong… kan 18-19 Juni SBMPTN! Ujian saringan masuk PTN tertulis! Trus tanggal 30 nya, SIMAK UI! Haha! Haha! Hahahahahaha! Jadi walaupun sekolah udah beres 18 April, hari Seninnya aku udah kembali belajar lagi hahahaha demi meraih impian (yang boleh dibilang) baru… apa cing? Haha apaaaaa ciiiiing. (Makin geuleuh) (Plis banget jangan diclose tabnya)

Yak pokoknya aku sudah kembali belajar di program intensif, tiap hari ke tempat les belajar sampai pintarrrrrr sampai dapat kuliah! Haha emangnya Izzati mau kuliah apa? Hahazek, di inbox ada yang nanya tentang impianku ke Juilliard, masih ga tuh? Impian mah ya namanya juga impian, masih lah pengen ke Juilliard, cuma sekarang yg di depan mata yg ingin diraih yg lebih nyata ada yg baru :) Doakan saja ya pokoknya hoho. (Terus aja minta doa) (Ya daripada minta uang) (Mending kalo dikasih) (Lagi-lagi monolog)

-

GUESS WHO’S LEGAL NOW? YUP THIS GIRL RIGHT HERE. I’m officially 18!!! Aduh udah tua, hahahahaha. Makin malu mengingat sepuluh tahun yang lalu aku produktif banget kerjaannya nulis terus gaada yang lain! Jadi cambukan buat diri sendiri. Haha anyway, 18 April itukan hari terakhir UN. Setelah puas membakar kartu ujian (eh ngga deng ga dibakar, aku laminasi da trus dipajang di kamar) Beres UN aku langsung telepon helikopter minta jemput dan candle light dinner di rooftop! Tapi bohong. Hahahahahahaha (ya kali candle light dinner di atep mah lilinnya udah mati duluan ketiup angin). Aku langsung karaoke melepas penat sama Yani Sashya Rifqy, sampe sakit kepala (penatnya balik lagi, hahaha). Nah UN beres jam setengah 1 kan, pergi jam 3 trus pulang sekitar Maghrib. Yani ikut pulang karena katanya pengen ngobrol banyak banget, yaudah aku seneng aja haha pas nyampe rumah, Yani bilang mau ikut solat dulu, dan begitu aku masuk kamar (yang pintunya ditutup) tiba-tiba dari kegelapan ada cahaya lilin terang banget dan empat wajah yang kukenal baik! Ada Puput Ulya Vania dan NP, lgs nyanyi-nyanyi dan keketawaan. Kaget dan seneng banget alhamdulillah! Trus dasar ya anak jaman sekarang, bukannya langsung ditiup lilinnya ini malah minta lagu hepibesdey nya dipanjangin satu bait lagi biar bisa direkam dan difoto. TRUS LILINNYA MELELEH HAHAHA. Trus dimakan. Krik #antiklimaks. Mudah-mudahan gaada yang keracunan…

Keesokan harinya langsung kabur ke Trans Studio sama Sashya, karena kita ulangtahunnya sama-sama bulan April jadi gratis masuk! Hahaha mantap, dari jam 11 sampe jam 5 di sana semua wahana dicobain. Zuper zekali. Akhirnya aku ke Trans Studio juga. Adrenaline rush nya average lah ya walaupun lebih deg-degan karena banyak bgt yg ganteng berseliweran *ups

Hari Sabtunya aku lagi leha-leha di rumah, nyoba-nyobain gaun-gaun bikinan Teh Nina (yang akhirnya muat, entah karena aku ngegendutin apa karena emang udah 18 tahun jadi pada muat), trus biar makin kerasa princessnya aku tidur-tiduran aja dalam keadaan masih pake gaun. Trus tiba-tiba Ibu nyuruh aku mandi, dalem hati akuteh yang “Uh kok mandi sih akukan princess!” HAHA marukana putri teh tara mandi. Tapi suruhan Ibu itu beralasan, karena dalam hitungan detik setelah itu tiba-tiba aku melihat kilatan cahaya lilin (lagi)… dan ujug-ujug aja Adni dan Jojo udah ada di depan kamar! HAHA dalam keadaan aku masih pake gaun putri-putrian! Mereka langsung ngetawain tapi yaudalaya kehidupan sebagai putri memang berat *dilempar sepatu kaca sama Cinderella*

Overall, I had a great birthday :) Terimakasih ya semuanya!

-

AKU BARU BUKA LAPTOP HARI INI jadi otomatis Tumblr baru ditengok hari ini, Inboxnya jadi baru kebaca :( I’M TERRIBLY SORRY buat yang nanya di Inbox dan ngga pernah aku bales! InsyaAllah you’ll get your answer (either I do it personally or post it right here)

And to those who wonder,

it’s still the old Izzati. 


Salam kemoceng!

Terakhir kali.

Posted on Feb 11, 2013 at 8AM permalink

Sunyi, senyap. Hening tengah malam. Hanya terang layar komputer, lampu baca dan napas jarum dinding yang tenang bercengkrama. Nyanyian dalam diam, senandung kesenangan gadis itu.

Kepulan asap dari cangkir kopinya mengudara. Ini sudah seduhan yang kelima.

Seduhan terakhir. Cangkir kopi terakhir.

Sebungkus rokok mentol yang dibelinya tanpa alasan teronggok membisu di sudut meja. Ia tertawakan sendiri dirinya. Ironi, ironi dimana-mana. Seolah tidak pernah cukup.

Ironi yang terakhir.

Ia sentuhkan ujung jarinya menyusuri layar ponsel. Tak ada pesan, tak ada apapun. Seperti seharusnya…

Gadis itu tersenyum sedih.

Kemudian ia berpuisi. 

Biarkanlah malam ini
jadi yang terakhir kali
untuknya mengharap
untuknya merindu
untuknya menyusun lagu

Biarkanlah malam ini
jadi yang terakhir kali
untuk segala yang tidak biasa
jadi biasa lagi
untuk teman lama
menghilang lagi
untuk kepak sayap kupu-kupu
tidak menggelitik lagi

Biarkanlah malam ini
jadi yang terakhir kali
untuknya mengenang
memori singkat yang nyaris fana
yang meski fana, tak pernah tidak dinikmati
yang meski fana, tak pernah tak ia inginkan lagi
yang meski fana, kerap ia harap nyatanya 
Kerap ia harap
nyatanya

Biarkanlah malam ini
jadi yang terakhir kali
untuk namanya terucap
untuk parasnya diingat
untuk suaranya digemakan
Satu kali terakhir saja
setelah itu
tidak sama sekali

Biarkanlah malam ini
jadi yang terakhir kali.

Wahai,
kini ia melambaikan tangan.

Malam ini, usai sudah.

Ketika Senja

Posted on Jan 22, 2013 at 5AM permalink

Kontemplasi semesta hari ini

Katanya
Gadis kecil hilang ceria
Hujan jadi tangisnya
Tiadakan pelangi
Harinya bukan hari ini

Kontemplasi semesta hari ini

Gadis kecil harus berjalan sendiri
Tidak ada yang tunggui
Roda di atas harus berputar
Berputar ke bawah hari ini

Hari ini
Semesta berkontemplasi

Pemuda itu
Duduk di sebelah gadis kecil
Dan semesta dengarkan
Apa yang mereka harus katakan
Tentang hujan
Tentang mengapa langit berawan
Tentang kesedihan
Tentang analogi-analogi yang tidak masuk akal

Hari ini
Semesta berkontemplasi

Pemuda itu
Guratkan luka di hati gadis kecil
Seiris saja
Seujung jari saja
Kecil saja
Asal cukup untuk memperingatinya

Hari ini
Semesta berkontemplasi

Kepulan asap dari secangkir teh pahit
Udarakan pilu
Bawa pergi semua rindu
Dan biarkan hangatnya semesta
Memeluk gadis itu

Kontemplasi semesta hari ini
Mengantarkan gadis kecil
Pada puisi ini

Jangan menangis lagi…

Tagged with #poem
Posted on Jan 20, 2013 at 8AM permalink

Halo, kamu yang sedang sendiri.

Ditemani buku pelajaran yang terbuka di depanmu, termangu. Kamu tidak suka belajar, aku tahu.

Hati dan pikiranmu tidak berada di sini, aku juga tahu…

Aku melihat dari atas, ada seorang gadis kecil yang tengah kesusahan. Aku terbang merendah, dan gadis kecil itu seperti sedang tersesat. Apa yang sedang kamu lakukan di sini? Kamu mau apa? Kamu butuh pertolongan, dan aku bisa lihat kalau kamu berusaha menolong dirimu sendiri, aku tahu.

Aku melihatmu menangis kemarin…

Sepi, ya, gadis kecil?

Di luar kamu berusaha tertawa, tapi hati kecilmu mengadu. 

Terdengar olehku, gadis kecil, aku tahu.

Apa yang terjadi? Kamu tidak pernah serapuh ini…

Nyanyikanlah padaku, gadis kecil, suaramu yang jernih dan sejuk bersenandung lebih merdu dari kicauan burung pagi. 

Bernyanyi dan tertawalah, gadis kecil.

Jangan menangis lagi…